Bahasa merupakan media komunikasi antara komunikan dengan komunikator, penutur dengan yang diajak tutur atau pembicara dengan pendengar (lawan bicara). Tanpa bahasa, komunikasi mungkin kurang tersambungkan bahkan tidak akan jalan. Walaupun memang sebenarnya ada yang mengerti akan bahasa isyarat, tetapi mungkin hanya orang-orang tertentu yang paham.

Penggunaan bahasa seseorang dalam kehidupan sehari-hari, mencerminkan kepribadiannya dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Penutur yang baik, halus, sopan, dan lancar tanpa terbata-bata serta dituturkan secara jelas ketika berkomunikasi menjadi cerminan kepribadian seseorang dalam bertindak. Luwes dan penuh keberanian untuk kebenaran juga memperlihatkan kepribadian seseorang saat menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Dalam sebuah gurindam yang ditulis oleh Muhamad Ali Raja, salah satu penyair puisi lama; gurindam 12, bahwa ” jika ingin mengenal orang berbangsa, lihat pada budi dan bahasa.” Artinya perbuatan, tingkah laku, dan segala ucapan melalui bahasa yang digunakan seseorang ketika berkomunikasi mencerminkan atau memperlihatkan pada rasa cintanya pada negaranya dan menjadi salah satu ciri dari mana dia berasal.

Sesuai dengan visi Pondok Pesantren Al-Multazam Husnul Khotimah, salah satunya terampil berbahasa, maka bagi seluruh santri yang baru menginjakan kaki di bangku sekolah menengah atas, diwajibkan mengikuti matrikulasi bahasa arab dam inggris. Matrikulasi ini diberikan menjelang tahun pelajaran baru di kelas X selama satu pekan sebelum mereka belajar materi lain. Tidak hanya bahasa arab dan inggris, tetapi juga penggunaan bahasa indonesia tetap harus baik saat berkomunikasi. Hal ini dilakukan guna mempersiapkan santri untuk membiasakan menggunakan bahasa yang baik ketika berkomunikasi dalam keseharian mereka, baik dengan teman sebaya maupun dengan para ustadz/ustadzahnya. Selain itu dengan pelaksanaan matrikulasi bahasa yang lebih mengajarkan pada dua bahasa yaitu arab dan inggris bertujuan untuk mempersiapkan santri go internasional ketika mereka keluar atau lulus dari pondok.

Matrikulasi bahasa ini diharapkan tidak hanya berhenti pada evaluasi akhri dalam bentuk ujian, tetapi lebih jauh lagi bisa terus diterapkan dalam percakapan ketika berkomunikasi. Hal ini pula yang menjadi harapan para orang tua ketika mereka berniat menyekolahkan anaknya di Pondok Pesanteren Al-Multazam Husnul Khotimah. Harapan tersebut dikemukakan para orang tua karena melihat zaman sekarang bahasa anak-anak remaja terkesan tidak lagi mencerminkan seorang pelajar. Kasar bahkan sampai berani berkomunikasi dengan nada tinggi atau membentak orang tua jika keinginan anak tidak segera dipenuhi.

Matrikulasi bahasa menjadi ajang dan modal santri untuk membiasakan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari baik di pondok maupun di lingkungan tempat tinggal mereka. Tentunya dengan terampil berbahasa, komunikasi pun akan bermakna. Semoga.

20/07/2019 -TimLiterasiSMAIT-

Please follow and like us:
error

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *