Munaqosyah bersama Ratug Jajantung yang Dag Dig Dug

Ratug jajantung merupakan padanan kata dalam bahasa Sunda yang menggambarkan jantung berdegup kencang hingga terasa ‘dag dig dug’. Seperti contoh lain dalam bahasa Sunda mengenai padanan kata, terekel naek, jrut turun, gek diuk, cle nyenycle, asin lekek, amis giung, aseum nyongkreng dan masih banyak padanan kata lain dalam istilah sunda. Sementara ‘Dag dig dug’ menjadi kata penjelas atau jenis kata yang menggambarkan rasa. Tidak hanya satu rasa, tetapi lebih pada berbagai jenis rasa, campur aduk berbaur jadi satu bak peremen nano-nano. Asin, asam, manis tapi tidak pahit karena diibaratkan pada sebuah peremen mewakili rasa campur aduk tak karuan dalam hati yang dag dig dug.

‘Dag dig dug’, itulah yang mereka rasakan menjelang detik-detik sidang makalah bersama para penguji profesional di bidang karya tulis dari para kabag pondok. Mulai dari persiapan sampai pelaksanaan bahkan sudah selesai pun dag dig dugnya hati masih mereka rasakan. Tidak berhenti sampai di sana, hati makin berdegup kencang tatkala memasuki ruang sidang. Ruang ber- ace tak terasa, yang ada hanya rasa gerah, gelisah dan rasa-rasa lain menghinggapi hati yang tak menentu. Mulai tangan dingin, terasa sulit berdiri hingga perut mulas bolak-balik kamar mandi setiap waktu. Itulah penggambaran rasa seluruh santri kelas XII menjelang munaqosyah.

Munaqosyah merupakan salah satu program Pondok Pesantren Terpadu Al-Multazam yang dijadikan syarat serta tugas akhir kelas XII menjelang kelulusan mereka melalui penulisan makalah. Senin, 25 Februari 2019, seluruh kelas XII mengikuti munaqosyah dengan penuh semangat di tengah-tengah ratug jajantung yang ‘dag dig dug’ tak karuan. Sebenarnya tidak akan ada habisnya menggambarkan rasa yang ada dalam dada mereka menjelang munaqosyah. Pengalaman pertama sidang di hadapan penguji benar-benar menguji mental dan tanggung jawab mereka terhadap isi makalah yang sudah dihasilkan, diketahui bahkan disahkan oleh mudir. Revisi atas makalah yang kurang bahkan tidak nyambung menurut penguji membuat hati makin sasah dan beberapa diantara mereka ada yang kembali menghubungi pembimbingnya dengan uraian air mata. Bukan hanya menguji makalah, melainkan para penguji pun menguji mental, hati dan wawasan ilmu pengetahuan mereka yang tertiang dalam karya tulis yang dihasilkan.

Ada sekitar 11 hingga 12 penguji menunggu di setiap ruangan, tentunya untuk menguji hasil makalah yang sudah ditulis melalui bimbingan intensif antara pembimbing dengan mereka, santri kelas XII.

Munaqosyah memang membuat hati resah dan ratug jajantung yang ‘dag dig dug’. Walaupun demikian, akhirnya semua telah usai dan terlewati tentunya dengan banyak kisah diantara mereka baik bersama pembimbing maupun penguji. Semangat untuk semuanya dan kembali berkarya tulis. Harapan kami, dewan guru, pembimbing, dan penguji bahwa program ini tidak hanya berhenti hanya pada sebatas tugas, tetapi berlanjut bagi mereka yang tentunya hobi dan mau menulis. Semoga.

26/2/2019*timliterasi

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *