Satu Lagi Berita Lahir dari Santri SMA

Satu Lagi Berita Lahir dari Santri SMA

Nelengnengkung nelengnengkung, nelengnengkung nelengnengkung… Bayiku bayi agung, semoga jadi priayi… Priayi… priayi… Bayiku bayi imaji…semoga jadi priyayi…

“Satu lagi informasi lahir dari tim literasi SMAIT Al-Multazam.”
(mengutip sedikit dialog dalam pertunjukkan “Dedes”)

“Dedes, Terperdaya atau Memperdaya Menjadi Sah Sah Saja”, merupakan sebuah lakon cerita sejarah kerajaan Majapahit. Lebih akrabnya dikenal dengan sebutan Ken Arok dan Ken Dedes. Ya Memang naskah drama garapan teater Sado Kuningan ini, tidak sama persis dengan cerita sejarah aslinya. Namun semua yang menyaksikan pertunjukkan “Dedes” merasa terhibur dan begitu banyak pesan yang bisa diambil.

Hadir dalam pertunjukkan seluruh santri ikhwan, terdiri dari kelas X, XI, dan XII SMAIT Al-Multazam. Sebelum menyaksikan pertunjukkan, mereka disuguhkan dengan pameran seni rupa yang mengusung tema “Membaca Aan Sugianto Mas.” Membaca sosok seniman sejati asal Kuningan yang telah tiada meninggalkan dunia fana ini. Semoga keindahan dan bagusnya karya-karya beliau, sebagus serta seindah amal ibadah beliau selagi di dunia. Semoga Allah SWT mengampuni seluruh kesalahan, dosa, dan beliau mendapatkan nikmat kubur. Amin.

Keadaan begitu ramai sesak padat tatkala santri ikhwan memasuki area seni rupa dan gedung pertunjukkan. Antusias dan apresiasi mereka dalam pameran seni rupa dan pertunjukkan drama ‘Dedes’ begitu tinggi hingga gedung dan tempat pameran seluruhnya didominasi oleh santri Al-Multazam.

Rabu, 20 Februari 2019, menjadi hal yang menyenangkan bagi mereka karena bisa langsung menyaksikan pertunjukkan teater yang sebenar-benarnya teater dengan aktor dan aktris berpengalaman. Tidak hanya pertunjukkan teater atau drama, tetapi juga bisa menikmati pameran seni rupa karya para seniman lokal maupun di luar Kuningan. Dari pameran dan pertunjukkan teater ini diharapkan mampu memberi suatu pengetahuan bagi mereka bahwa dalam berkarya harus penuh tidak setengah setengah dan mampu menginspirasi mereka dalam menuangkan ide melalui media apa pun itu.

Di samping hal di atas, melalui apresiasi yang mereka tunjukkan, semoga dapat melahirkan para pencipta karya muda. Kegiatan apresiasi ini juga sebagai bentuk aplikasi dari sebuah teori yang sebenarnya dibutuhkan peserta didik dalam hal ini santri agar mereka tidak hanya sekadar tahu teori, tetapi lebih pada praktik langsung di lapangan. Walaupun yang memerankan bukan dari mereka, tetapi setidaknya dengan keterlibatan mereka dalam apresiasi ini memberikan bahan dan pengetahuan untuk kemudian dipraktikan oleh mereka. Apalagi di K-13, belajar suatu teori langsung diaplikasikan dalam hal nyata sangat diharuskan. Tanpa ada aplikasi keterlibatan mereka di lapangan, teori hanya sekadar teori tanpa bukti nyata, sungguh sangat disayangkan. Justru dari pembuktian kemenarikan sebuah teori akan tercipta.

“Selamat berkarya para jiwa muda. Berkarya dalam bentuk apa pun karena sebuah karya tak terbatas ruang dan waktu. Selama masih bisa berkarya maka berkaryalah. Selama banyak inspirasi maka tuangkanlah.”

21/2/2019*timliterasi

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *