Menyapa dengan sapaan manja. Menegur melalui teguran penuh kelembutan. Teriakan semangat dan salam hangat. Kesopanan ditunjukkan tidak dengan kepalsuan. Ekspresi wajah yang begitu indah, perlakuan hormat yang mereka tunjukkan, rendah hati para santri saat menyalami kami, itulah rutinitas sambut santri di pagi hari.

Menyambut santri disitulah tegur sapa membentur, berbaur dengan senyuman dari hati meruntuhkan kekakuan pagi hari di hadapan kami. Saling berikan senyuman dan juga kabar, serta teriakan semangat saat mereka mulai menghampiri dan menyalami kami. Pagi hari selalu indah bagi siapa saja yang menikmati, tentunya menikmati dengan hati riang tanpa beban dan yang pasti semangat tinggi tuk raih segala mimpi. Namun bagi mereka yang tak pernah merasakan indahnya pagi hari, yang ada hanya keruwetan sepanjang hari, tanpa semangat apalagi siratan senyuman yang diperlihatkan. Maka pagi hari saatnya berbagi dengan menunjukkan aura-aura semangat tinggi menuju sebuah keinginan sejati yaitu cita, angan, dan cinta.

“Assalamualaikum Bu, Pak…”
“Bagaimana kabarnya Bu, Pak…”
“Selamat Pagi Bu…”
“Semangat pagi Pak…”
“Mohon doanya Ibu… Hari ini aku mau ujian…”
“Semangat Bu…”
“Doakan kami Pak Bu…”

Itulah ungkapan-ungkapan yang terlontar dari mulut mereka saat tangan-tangan penuh harapan mulai menyalami kami. Semangat pagi yang mereka tunjukkan membuat hati kami berdecak kagum dan dalam hati berdoa untuk kesuksesan dan keberkahan ilmu yang selama ini mereka peroleh dari kami. Padatnya jadwal kegiatan santri di pondok tak menghalangi mereka untuk tetap bisa berangkat pagi dan menghampiri kami yang setia menunggu di persimpangan jalan menuju kelas-kelas tempat mereka belajar.

Tidak satu pun tampak di wajah mereka kesedihan, permasalahan, kekakuan, kelelahan, dan kecapean. Yang ada hanya senyuman dan semangat tinggi untuk menimba ilmu dari dewan guru luar biasa Pondok Pesantren Terpadu Al-Multazam.

Mulai pukul 6.30 mereka berdatangan dan menyalami kami menuju tempat belajar yang selama ini menjadi asrama kedua bagi mereka. Antrean memanjang dari beberapa arah terlihat bak para antrean penerima sembako. Namun yang ini bukan antrean sembako, tetapi antre hanya sekadar menyapa, bersalaman, dan mohon doa serta keikhlasan kami buat mereka. Pukul 7.00 penyambutan santri pun kami akhiri. Saatnya mereka masuk kelas, belajar, dan menjalankan aktivitas keseharian di dalam kelaa bersama para guru.

“Salam hangat, semangat, dan tentunya doa kami untuk keberkahan ilmu yang selama ini kalian terima dari dewan guru. Semoga ilmu yang selama ini didapatkan mampu menghantarkan kalian ke depan gerbang kesuksesan.”

19/2/2019*Literasipagi#

Please follow and like us:
error

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *