Ketika Opini Dibungkam, Saatnya Jurnalis Bicara Fakta

Ketika Opini Dibungkam, Saatnya Jurnalis Bicara Fakta

[SMAITAM]- Setiap pemberitaan sebuah informasi, tidak terlepas dari opini dan fakta. Kedua kata tersebut selalu berdampingan tak terpisahkan. Namun bagaimana jadinya jika opini yang tersebar dalam sebuah tulisan menginformasikan berita-berita jauh dari kebenaran? Siapa yang bertanggungjawab dalam hal ini, jurnalis, dunia kewartawanan atau kesalahan redaksi bahasa media?

Pondok Pesantren Al-Multazam melalui program divisi huda, humas dan dakwah menyelenggarakan pelatihan jurnalistik dan kewartawanan dengan tema ‘Ayo Jadikan Tulisan dan Fotomu Bernilai dan Bermanfaat’. Bersama pemateri dari salah satu wartawan Kuningan, Deden Rizalul Umam atau lebih akrab dikenal Kang Deden, para peserta yang terdiri dari perwakilan tiap bagian begitu antusias mengikuti pelatihan ini.

Rangkaian acara demi acara mengawali pelatihan jurnalistik ini pun telah disiapkan dengan penuh konsep oleh para panitia yang sebagian besar dari huda dan media. Di bawah kendali pembawa acara sekaligus moderator, Ustad Oon Rohyan, kegiatan ini pun terbilang sukses dan lancar.

“Dakwah itu bisa melalui tulis dan foto, dengan kegiatan ini diharapkan kewartawanan kontributor Al-Multazam dimana pun berada diakui oleh halayak ramai” ujar kepala Divisi Humas dan Dakwah, Ustad Juheni, S.Ag., M.Pd. dalam sambutannya. Sementara pada sambutan kedua, ketua Yayasan Pondok Islam Al-Multazam Husnul Khotimah, Ustad Abdul Rosyid, Lc., M.Ag. menyampaikan “Dalam dunia kewartawanan itu tetap harus memperhatikan kejujuran dan keabsahan sebuah tulisan agar jauh dari kebohongan pemberitaan.”

“Hanya butuh nyali dan ‘nakal’, maka tulisan apa pun itu akan bernilai di hati para pembaca, tentunya tetap memperhatikan ketentuan dalam penulisan berita atau informasi serta penggunaan bahasa media”, ungkap Kang Deden. Hanya butuh pengetahuan 5W+1H, pemahanan penulisan dengan bentuk piramid terbalik, penggunaan bahasa media, dan tentunya kemauan kuat untuk menulis, maka tulisan akan tercipta dengan baik jauh dari kata kebohongan jika ditulis sesuai fakta. ” Boleh beropini, tapi jelas sumbernya”, ujar pria berpenampilan santai ini.

Di penghujung acara, ketua pelaksana Ustad Nana Mulyana, S.Ag., M.Pd. menyampaikan “Butuh proses untuk menghasilakn sesuatu yang baik, begitupun sebuah tulisan, dengan proses mengamati, bertanya, mengumpulkan data, memproses menjadi tulisan kemudian menyampaikan kepada para pembaca, itulah yang diharapkan dari hasil pelatihan jurnalistik dan kewartawanan ini”

Salam literasi…membaca, menulis, dan berkarya

21/10/2018*timliterasi

Please follow and like us:
error

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *