Pendampingan K-13 bukan Sekadar Formalitas melainkan Pembelajaran Menyenangkan Berkualitas

Pendampingan K-13 bukan Sekadar Formalitas melainkan Pembelajaran Menyenangkan Berkualitas

Andai setiap hari supervisi, setiap pekan akreditasi, dan setiap bulan evaluasi, mungkin jauh jauh hari semuanya sudah disiapkan dengan matang, tidak mendadak. Namun bagaimana dengan mata pelajaran yang tidak mengajar di kelas dan ketika ada pendampingan atau bisa dikatakan pengawasan dari sekolah lain, harus ada?, sebenarnya dilema juga. Apalagi adanya buku 1 dan 2, lengkap banget…

Di sinilah seni peran diterapkan. Guru A berperan sebagai C, dan guru C berperan B, bahkan guru A berperan sebagai guru F, jauh sekali. Tapi mungkin inilah dunia pendidikan, yang semuanya harus memiliki seni peran guna menaikan kualitas, diakui, dan layak menerapkan K-13.

Sebenarnya tidak mudah berperan sebagai guru C, guru B, bahkan guru F, ilmu dan pakar serta lulusan yang sesuailah yang berhak berperan sebagai guru C, B, dan F. Apakah ini bukan pembohongan publik? Lalu bagaimana dengan kita yang mestinya jadi keteladanan buat mereka, yang selalu mengajarkan keberkahan ilmu, akhlak terpuji dan lain sebagainya?

Semoga ini bukan sekadar formalitas, ke depannya menjadi kualitas yang sebenarnya kualitas.

Hidup tanpa agama akan celaka, hidup dengan ilmu akan terarah, hidup dengan seni terasa indah

*timliterasi

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *