BUKA HATI, BUKA PIKIRAN MENUJU PEMBELAJARAN 21

BUKA HATI, BUKA PIKIRAN MENUJU PEMBELAJARAN 21

“Muridnya abad 21, gurunya abad 20, kelasnya abad 19, metode pembelajarannya abad 18.”

Itulah karakter pendidikan di Indonesia saat ini. Masih belum berubah dan mengalami perubahan. Lalu bagaimana pembelajaran abad 21 dan implementasinya pada penilaian kurikulum 2013?

Berdasarkan permasalahan di atas, Jumat, (10/8/2018), Bapak Kepala SMAIT Al-Multazam, Edi Gunarto, S.Pd. menyampaikan melalui program guru berbagi kepada seluruh ustad/ustadzah SMAIT mengenai pembelajaran HOTS abad 21. Menurut beliau, tidak hanya HOTS dalam penulisan soal, pun pembelajaran harus mengarah pada HOTS abad 21, apalagi di K-13.

Sebuah pendidikan akan dikatakan berhasil dan menuju pembelajaran abad 21, manakala didalamnya mencanangkan atau mampu menumbuhkan:
1. Siswa berkarakter
2. Literasi
3. Mempunyai Kompetensi dalam berfikir kritis, kreativitas, berkomunikasi, dan Kolaborasi.

Ketiga hal di ataslah yang dibutuhkan oleh peserta didik pada pembelajaran abad 21 sebagai implementasi penilaian K-13.

Berkarakter adalah hal utama yang harus ditumbuhkan pada siswa, hal ini bukan hanya diakui oleh kita sebagai warga Indonesia, melainkan oleh dunia. Karakter.

Kedua literasi merupakan pondasi utama dalam dunia pendidikan. Dengan berliterasi kita dan peserta didik diharapkan membuka hati dan pikiran tentunya dengan ilmu pengetahuan agar tidak ada kebohongan dan ketidakjelasan dalam informasi dan ilmu yang dipelajari.

Pada kurikulum 2013 literasi menjadi sebuah keharusan di setiap pembelajaran. Peserta didik dituntut untuk membuka pikiran dengan ilmu dan wawasan. Tidak hanya siswa, pun pendidik atau pengajar harus mampu berliterasi melebihi siswanya jika tidak ingin tertinggal dan dikatakan guru abad 20 atau 19.

Tidak kalah penting dangan dua hal di atas, kompetensi juga menjadi faktor utama yang harus dikuasai siswa. Dengan kompetensi yang dimiliki diharapkan seluruh siswa dan guru mampu menjadikan proses pembelajaran abad 21, bukan 20, 19, apalagi abad 18.

Buka hati, buka pikiran untuk kemajuan pendidikan menuju pembelajaran abad 21, itu yang diharapkan. Semoga.

*(wdr)

Please follow and like us:
error

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *