BELAJAR BUKAN UNTUK STRES MELAINKAN AGAR SUKSES

BELAJAR BUKAN UNTUK STRES MELAINKAN AGAR SUKSES

Kalimat di atas saya ambil dari perkataan salah satu santri dan untuk selanjutnya dijadikan judul tulisan ini.

Sebuah kalimat yang menjadi kalimat fakta bukan lagi opini di kalangan santri SMAIT Al-Multazam. Mengapa demikian? Melalui kalimat di atas secara fakta dan hasil di lapangan membuktikan bahwa kegiatan belajar mengajar di setiap kelas selama ini begitu kondusif. Tampak wajah-wajah bersemangat dan penuh harapan untuk mendapatkan ilmu dunia akhirat dari para pendidik SMAIT Al-Multazam. Ya, walaupun memang masih ada beberapa kelas yang terbilang kelas ‘berat’ dan satu, dua santri yang sulit untuk melakukan perubahan. Namun secara keseluruhan inilah potret pembelajaran mereka di kelas bersama para dewan guru yang mereka cintai dan segani.

Membaca merupakan kegiatan yang mereka lakukan di sela-sela waktu senggang atau ketika guru belum memasuki kelas. Sementara menulis menjadi hobi dan kebiasaan beberapa santri di waktu-waktu istirahat, dengan harapan tulisan mereka dapat dipublikasikan dan memberikan manfaat bagi para pembaca.

Tidak hanya itu, keinginan mereka untuk tampil di depan sebagai bentuk cara menguji mental dan wawasan menjadi pemicu motivasi mereka untuk terus berubah. Sesuai dengan prinsip mereka bahwa belajar bukan untuk stress melainkan agar sukses berusaha untuk terus mereka lakukan, kerjakan, dan pahami betapa pentingnya menjaga keseriusan dalam belajar dan menghormati para pemberi ilmu yaitu guru. “Keberkahan ilmu akan didapatkan salah satunya dengan menghormati guru.” Tidak hanya keberkahan, pun kesuksesan, Insya Allah.

Dengan demikian maka tugas kita sebagai para pendidik yang saya kutip dari pidatonya Bapak Anis Baswedan yakni:
1. Menumbuhkan karakter moral dan kinerja peserta didik. Dalam hal ini bukan membentuk karakter, karena karakter tidak untuk dibentuk tetapi ditumbuhkan.
2. Mengembangkan kompetensi, meliputi berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaborasi diantara peserta didik.
3. Membudayakan literasi keterbukaan wawasan, baik literasi baca maupun tulis.

Pembelajaran menyenangkan abad 21 selalu dinanti dan harapan santri untuk lebih menyukai, mempelajari, dan memaknai setiap ilmu yang diberi oleh para pendiri lembaga pendidikan bernama sekolah. Semoga.

#3/8/2018*widuri*

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *